Kamu itu unik, wahai kedua.
Sembilan bulan lebih kau di perut ibumu, dan cuma sedikit waktu ditemani olehku.
Sejak kau berkembang, abah lagi diberi amanah untuk meneruskan sekolah di Surabaya.
Dan umi beserta kau, dan kakakmu, abah tinggalkan dirumah, beruntung kau punya umi yang sabar.
Abah masih ingat, pada tanggal 17 September 2005, semestinya waktunya abah wisuda, setelah 2 tahun nekat meneruskan menambah ilmu yang ada adanya ini, meninggalkan umi, meninggalkan segalanya.
Tapi abah tidak bisa menghadiri acara seremonial itu, abah punya acara sendiri, yaitu merayakan kehadiranmu.
Ya tepat sehari sebelum acara wisuda itu, kau lahir, normal.
Dan beratmu, bukan main, genap 4 kilogram.
Kali ini nasibmu lebih beruntung dari waktu kelahiran kakakmu. Walau masih di rumah sakit yang sama. Abah bisa ‘menyewa’ kamar yang sedikit lebih layak daripada barak tempat kakakmu dilahirkan. Paling tidak ada kamar mandi tersendiri di dalam kamar yang khusus untuk satu orang, sehingga umi bisa agak tenang menyapihmu.
Kau juga kakakmu, gak ngerepotin orangtuamu ini. Sejak lahir gak pernah bikin susah. Alhamdulillah jarang sakit.
Kehadiranmu menambah rame rumah, sekarang jadi genap berempat, menyusun hari.
Tags: Kedua