Cerita Kelahiran si Pertama

Tiga dari kalian. Masing-masing punya cerita saat kelahiran, dan juga proses menuju kedatangan kalian ke dunia ini.

Kelahiran kau yang pertama. Kau beruntung, karena ditunggu oleh semuanya, karena kau benar-benar sang pertama. Anak pertama, dan cucu pertama dari aki-nini dan kai nini mu.

Tahu kah engkau, saat diperiksa oleh Dua dokter kandungan, bayangkan, sampai dua dokter kami sewa, demi supaya kau selamat tak kurang suatu apa, dan juga satu bidan dan satu ahli urut bayi, semua berkesimpulan sama, kau yang masih tenang dan kadang melonjak-lonjak di perut umi mu itu, sepertinya seorang calon perempuan.

Sampai sembilan bulan usiamu di dalam kandungan, smua tetep keukueh dengan pendapatnya, ‘sepertinya ini perempuan’

Tapi, toh nyatanya Allah jua sang penentu, kan ? :) Segala ilmu gugugr dengan sendirinya.

Kira-kira sore hari tanggal 16 Oktober 2001, kami berdua, abah dan umi, di kamar belakang, yang sekarang di disi komputer dan lemari bajumu itu. Ngobrol santai seraya sesekali bercanda. Ya memang umi cuma berdua menikmati hari di rumah sederhana kita.
Lalu ujung-ujungnya memikirkan untuk melepas cincin kawin di jari manis umi mu. Konon katanya kalo nanti pas proses melahirkan, memang harus di lepas.

Ah, kehamilan umi, membuat cincin itu sulit dilepas, sepertinya selain perut, jari manisnya pun rada melebar :D
Dan sesaat setelah berhasil dilepas, setelah berbagai cara dicoba, tba-tiba umi merasa ada cairan yang tumpah ke bawah.
Ya, pas umi berdiri, ada cairan yang turun begitu saja, ..
Ah, tanda kelahiranmu sudah dekat, kedatanganmu sudah akan saatnya rupanya.

Abah cuma punya sepeda motor, Alpha hitam itu. Jelas tidak ah sulit untuk membawa umi ke rumah sakit cuma dengan motor. Untung rumah kai mu dekat, abah pun segera minta bantuan sama om, yang langsung mengantar kita ke rumah sakit umum daerah kampung kita. Untung saja umi sudah menyiapkans egala perlengkapan yang mungkin nanti diperlukan.

Mungkin abah minta maaf, saat itu abah hanya seorang Pegawai Negeri golongan dua, yang hanya punya jatah untuk merawatmu dan ibumu di kelas tiga, kelas sal, kelas barak. Benar-benar tidak mampu untuk memaksakan diri di tempat yang mungkin lebih layak.
walau umi agak kerepotan dengan kerudungnya, yang tentu tak bisa dibuka di tempat umum.

Ada sekitar empat ibu hamil yang dirawat waktu itu kalo tidak salah. Tepat di sebelah tempat tidur umi, ada seorang ibu muda, yang terus-menerus mengeluh kesakitan, karena harus menahan dan menunggu kelahiran anaknya, yang konon katanya harus melalui operasi caesar.

Ah, smoga engkau tidak, semoga bisa dilahirkan normal. Kalau saja kau tahu ongkos operasi saat itu. Walaupun tentu saja, abah siap dengan apapun yang terjadi. Bukan masalah ongkos yang malah itu poin utamanya. Cuma saja terus berharap engkau dan umi akan selamat.

Ada kejadian lucu, pas baru datang di rumah sakit. Kata perawat, ‘pembukaan’ jalan lahirmu baru sampai pembukaan dua, demikian istilahnya. Dan umi disarankan untuk jalan-jalan.
Konyolnya abah langsung saja ngajak umimu jalan kelluar dari rumah sakit, menuju supermarket terdekat, kebetulan ada keperluan untuk kelahiranmu yang belum sempat terbeli.
Sesudah selesai berbelanja, sesampainya kembali di ruang perawatan, kami langsung diomeli oleh perawat, karena berjalan begitu jauhnya haha, takut ada apa-apa di jalan, katanya.

Setelah menunggu, abah menunggu berdua dengan kai, di koridor rumah sakit.
akhirnya kau lahir setelah lewat tengah malam. Dan kau adalah lelaki ! Lahir normal, dengan sedikit vakum ringan, ini karena dokter yang menanganimu juga sibuk mau menangani ibu yang berada di sisi umi mu saat di bangsal.

Ah, bersih sekali tubuhmu saat itu, nyaris tidak ada kotoran disekujur badanmu, para perawat yang menanganimu saja sampai takjub.
Itu mungkin karena umi yang rajin menelan minyak kelapa bikinan abah, beberapa minggu sebelum waktunya melahirkan, atas nasehat beberapa kerabat.

Beberapa saat setalah kau lahir, umi masih di ruang bersalin. Dan kau yang sudah diselimuti, tak lama diserahkan perawat untuk di adzankan abah. Tenang sekali, cakap sekali parasmu.
Adzan lah suara yang pertama kau dengar denan jelas di telingamu,
kemudian mulut mungilmu abah kasih madu, kau pun menikmatinya dengan tenang.

Setelah itu, kau abah gendong, mungkin lebih dari satu jam. Kita hanya bertiga ditemani kai, di dingin dinihari itu.
Sambil menggendongmu, abah sibuk memikirkan nama untukmu … Karena akibat terlalu percaya dengan haril pemeriksaan dokter, bidan, dan dukun pijat. Abah hanya menyiapkan nama perempuan buatnya :D

Setelah umi keluar dari ruang bersalin, kita bertiga berkumpul lagi. Walau abah tetap harus ke kantor hari itu.
Satu hari kemudian kita pulang, menikmati hari-hari dengan kesederhanaan. Beriga, ya cuma bertiga.
Indah sekali …

Advertisement

2 Responses to “Cerita Kelahiran si Pertama”

  1. deeedeee Says:

    anak pertama cucu pertama, itu saya bgt, bah! hehehe

    jd penasaran juga gimana yah cerita awal kelahiran saya dulu :D

  2. zulhaq Says:

    selamat yah bah…
    kalo saiah dulu dilahirkan, keluar ketawa ngakak kayaknya hi hi hi
    *ngaco*

    marhaban ya ramdhan, maaf lahir adn bathin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.